5 Kegalauan yang Kerap Dipikirkan Perempuan Menjelang Pernikahan

5-Kegalauan-yang-Kerap-Dipikirkan-Perempuan-Menjelang-Pernikahan.jpg

Saat pria yang dicintai oleh seorang wanita melamarnya, ada banyak hal yang hadir di hati seorang perempuan. Di satu sisi Ia merasa sangat bahagia, karena akhirnya seorang laki-laki mau melanjutkan tanggung jawab ayahnya untuk menjaganya. Di satu sisi Ia akan mulai menimbang-nimbang apakah dirinya seorang perempuan yang baik yang dapat membina suatu keluarga.

Sisi lain dari pikirannya juga mempertanyakan, apakah pria yang didepannya ini adalah jodoh yang terbaik untuknya? Maka dari itu tidak semua perempuan langsung menjawab lamaran tersebut dengan tegas.

Kegalauan Wanita Menjelang Nikah

Saat seorang wanita menjawab iya, maka Ia akan resmi bertunangan dengan seorang pria. Dalam rentang waktu antara pertunangan dan pernikahan itulah, kegalauan-kegalauan ini akan hadir. Jika kamu adalah seorang wanita yang sedang berada dalam fase tersebut, mungkin kamu mengalami beberapa kegalauan seperti uraian di bawah ini.

1. Kegalauan Karena Pengorbanan Yang Dilakukan Saat Akan Menjadi Seorang Istri

Mungkin banyak di antara kita, perempuan yang mengorbankan sederet panjang mimpinya tatkala memutuskan untuk menjadi seorang istri. Bisa jadi pengorbanan tersebut terjadi karena sang Suami yang tidak akan tinggal menetap di lokasi saat ini dan sang istri harus ikut.

Bisa jadi karena keuangan keluarga belum mencukupi untuk menuntaskan rencana istri dan suami di waktu bersamaan. Bagi seorang perempuan yang biasa bekerja, baik dalam lingkungan akademik maupun professional, hal ini sesungguhnya berat.

Dalam mengatasi hal ini, ingatlah bahwa pengorbanan yang dilakukan takkan sia-sia. Tuhan Maha Tahu dan berbakti pada suami adalah salah satu perintah-Nya. Bicarakan lebih lanjut pada suami setelah menikah nanti, semoga diberi toleransi untuk melanjutkan mimpi.

2. Takut Tidak Dapat Menjadi Istri yang Baik

Ketakutan ini umum terjadi karena saat ini, wanita akan mengalami hidup bersama pria. Pria dan wanita memiliki basis jiwa yang berbeda. Banyak penyesuaian yang dilakukan. Sementara istri yang baik adalah mereka yang bijak dan menyenangkan hati suami.

Kebanyakan perempuan berpikir, bisakah Ia menuju tahap tersebut secara lahir dan batin? Menanganinya, cari beberapa hal yang dapat memperkaya pengetahuan kamu dan luangkan waktu untuk bersosialisasi dengan orangtua. Akan banyak wejangan dan pelatihan yang kamu dapatkan.

3. Takut Tidak Dapat Menjadi Menantu yang Baik

Sebelum menikah, tanamkan pola pikir bahwa mertua adalah orangtua kedua, bukan saingan. Tidak semua mertua bersifat toksik sebagaimana stereotip. Banyak juga mertua yang memosisikan dirinya sebagai ibu yang siap membimbingmu sebagaimana ibumu sendiri.

Jika kamu merasa belum dapat menjadi menantu yang baik, sadari bahwa kamu harus menjadi dirimu sendiri agar mertua dapat membimbingmu dengan lapang dada. Datanglah apa adanya pada ibu mertua seberapa sakit hatimu nanti olehnya. Bertoleransilah terhadap perbedaan yang kalian miliki. Beliau adalah orang yang membesarkan suamimu, lho.

4. Takut Tidak Dapat Menjadi Anak yang Baik Bagi Orangtua Dan Saudara Kandungnya

Jika kamu adalah seorang anak dan kakak bagi keluargamu, kamu akan merasakan bimbang ketika memutuskan untuk menikah. Kamu yang biasanya berkumpul bersama keluarga, dipimpin ayah dan ibu—atau pada beberapa kasus menjadi pemimpin bagi saudaramu karena tidak ada lagi orangtua, saat ini harus berpindah kapal ke kapal bersama suami. Bimbang? Jelas.

Sadari bahwa kamu akan selalu memiiki tempat di hati mereka. Tidak ada relasi yang terputus. Tetap jalin silaturahmi dengan mereka, bantu kesulitan mereka, dan dengarkan setiap curhat mereka. Ajak suamimu untuk menjadi saudara yang baik bagi saudaramu. Jangan jadikan pasanganmu pemantik bara api diantara kalian. Konflik di kala dewasa itu tak enak, lho.

5. Takut tidak dapat menjadi ibu yang baik

Ini ketakutan terbesar setiap perempuan. Ibu adalah seorang pewaris dan penjaga nilai. Ia harus melakukan keduanya dengan metode yang baik, namun seperti apa? Bagaimana Ia menjaga anaknya nanti? Menjadikan anak sehat spiritual, mental, dan fisik. Menjadikan anak memiliki pribadi luhur.

Demikian beberapa kegalauan wanita menjelang menikah. Kamu harus tahu bahwa yang penting adalah tetap jalan ke depan dan hadapi. Jangan mundur karena keraguan akan hal baik, sesungguhnya termasuk godaan. Ini adalah tantangan yang dapat mendewasakan kamu kedepannya.

Litalia

Litalia

Penulis lepas yang suka dengan topik pernikahan, travelling, hukum dan desain interior. Kontak saya di litaliaku@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top