7 Kisah Poligami Tak Berujung Bahagia, Hanya Praktek Superioritas Patriarki

Dampak-Buruk-Poligami.jpg

Poligami memang selalu menjadi polemik sejak jaman dahulu sampai saat sekarang ini. Ada banyak pro dan kontra poligami yang selalu mengiringi praktek superioritas patriarki yang memang selalu ingin mendominasi. Negara kita memang tidak bisa melarang secara mutlak praktek ini berlangsung karena ada banyak pertimbangan yang selalu menjadi perdebatan tak berujung.

Namun negara telah berusaha memberikan batasan-batasan yang manusiawi untuk para pelakunya. Sesuai dengan Undang-Undang Hukum Negara No 1/1074 tentang perkawinan, pasal 3 ayat 2 yang menyatakan bahwa suami diijinkan menikah lagi apabila memang dikehendaki oleh pihak-pihak terkait. Yang dimaksud terkait disini adalah pihak istri pertama dan atasan suami di tempat kerja. Hal ini berlaku untuk PNS.

Adalagi pasal yang melarang seorang wanita PNS untuk menjadi istri kedua, ketiga dan keempat seperti yang terdapat dalam pasal 4 ayat 2 peraturan Pemerintah Nomor 45 tahun 1990.

Fakta Tentang Poligami

Menurut penelitian yang dilakukan seorang ahli hukum Universitas Sumatera Utara dalam jurnal Equality ada banyak alasan seorang suami untuk menikah lagi. Alasan-alasan tersebut antara lain:

  1. Kebutuhan seksual
  2. Kehadiran perempuan lain
  3. Istri kurang merawat diri
  4. Penyakit istri yang tidak dapat disembuhkan
  5. Masalah ekonomi
  6. Kurangnya pelayanan istri
  7. Adat dan tradisi

Melihat beragamnya alasan yang dikemukan, apakah pernah seorang suami berpikir bila alasan-alasan tersebut diajukan seorang istri? Dengan kata lain apabila posisinya dibalik? Kenapa dari semua alasan tersebut semuanya hanya berpihak pada suami? Kenapa selalu suami yang menjadi subjek dan istri yang selalu menjadi objek? Apakah begitu berurat berakarnyakah peran suami yang begitu superior dihadapan istri?

Begitu banyak tanya yang sampai saat ini tidak ada yang berani menjawabnya dengan tegas. Apakah semua derita istri harus menjadi cerita selewat semata? Mari kita tengok fakta-fakta dilapangan yang sudah tidak terhitung jumlahnya penderitaan para istri yang kebetulan bernasib tidak beruntung mendapatkan suami yang tidak diharapkan ini.

Pada tahun 2012 yang lalu, seorang akademisi IAIN Walisongo Semarang sekaligus founder Women Crisis Center (WCC) bernama Siti Hikmah menerangkan dalam jurnal SAWWA vol 7 pada April tahun yang sama mengenai riset yang telah dilakukan LBH APIK Jakarta terhadap 107 istri yang suamimya adalah pelaku poligami.

Baca juga: Syarat Poligami Menurut Ulama Berbeda-Beda, Ada yang Haram

Dampak Buruk Poligami

Dampak negatif dari praktek poligami yang diderita para istri antara lain:

  1. Tidak diberi nafkah
  2. Ditelantarkan dan ditinggalkan
  3. Pisah ranjang
  4. Penganiayan fisik
  5. Diceraikan suami
  6. Diteror istri muda

Selain penderitaan yang dialami pihak istri pertama, penderitaan lainpun dirasakan oleh wanita pelakor tersebut, antara lain:

  1. Tidak diberi status resmi
  2. Dipoligami siri
  3. Korban selingkuh
  4. Ditinggal seenaknya
  5. Hanya sebatas wanita idaman lain
  6. Tidak mendapat hak waris

Kisah Poligami Tak Berujung Manis

Beberapa fakta yang menunjukkna bahwa poligami akan berujung tragis adalah yang bisa kita lihat dari perkawinan selebritis yang kita kenal, antara lain:

1. Maya Estianty

Bunda yang satu ini lebih rela menjanda ketimbang harus berbagi dengan mantan rekan kerjanya dulu Mulan Jameela.

2. Sarita Adul Mukti

Ibu beranak 4 ini harus merelakan kepergian suami ke pelukan artis sensasional yang menuai kontroversi Jennifer Dunn.

3. Dewi Yull

Jauh ke belakang ada Dewi Yull yang harus bercerai dan membesar anak sendiri daripada harus dipoligami oleh Ray Sahetapy.

4. Rieke Dyah Pitaloka

Setelah menikah selama 9 tahun menikah adem ayem dengan suami harus berpisah karena kehadiran pihak ketiga yang tidak diundang.

5. Cinta Penelope

Satu lagi artis wanita yang menjadi korban praktek poligami yang entah terbuka atau tertutup tetap menyisakan duka.

6. Dian Rositaningrum

Mantan istri dari Opick ini harus menanggung derita manakala suaminya berpaling ke wanita lain. Anak-anak yang menjadi korban bukanlah penghalang bagi suami untuk tetap menikah dengan wanita lain dan mencari kebahagiaannya sendiri.

7. Nia Daniaty

Lebih baik sendiri daripada harus berbagi dengan wanita lain memperebutkan cintanya Farhat Abbas.

Dari sekian banyak kasus poligami hampir semua berujung duka lara. Dimana pihak yang paling menderita adalah istri pertama dan anak-anaknya. Penderitaan psikis dan fisik yang diderita akan menjadi trauma berkepanjangan seumur hidup yang dapat membelenggu kebahagiaan di masa depan.

Untuk memangkas penderitaan ini memang menjadi tugas besar dari seluruh kalangan. Baik dari pihak pemerintah yang sudah seharusnya memberikan jaminan terhadap warganya. Maupun dari pihak kalangan ulama dan tokoh adat yang disegani dan didengar fatwanya. Selain itu pula dari dalam rumah tangga itu sendiri.

Perbedaan antara wanita dan pria sebagai mahluk sosial sudah seharusnya disikapi dengan dengan bijak. Berangkat dari keluarga sebagai satuan terkecil masyarakat untuk tidak membedakan perlakuan terhadap anak perempuan dan laki-laki secara ekstrim. Sudah seharusnya semua anak merasakan sejak kecil bahwa mereka memiliki kesamaan level, tidak ada yang superior yang harus selalu dimenangkan dan tidak ada pihak inferior yang selalu harus mengalah.

Begitupun pemberdayaan pihak wanita sudah semestinya digalakkan sejak usia dini. Wanita tidak semestinya bergantung pada pihak pria. Kekuatan mental, fisik, ekonomi dan tingkat pendidikan harus sama-sama memberikan kesempatan seluas-luasnya agar wanita dapat dihargai dan disegani.

Litalia

Litalia

Penulis lepas yang suka dengan topik pernikahan, travelling, hukum dan desain interior. Kontak saya di litaliaku@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top