Mengenal Filosofi Paes, Rias Pengantin Khas Jawa Tengah yang Penuh Keistimewaan

Rias-Pengantin-Khas-Jawa-Tengah-Post-1.jpg

Rias pengantin Jawa Tengah seakan tak bisa lepas dari elemen yang paling krusial yaitu paes. Selain harus dipersiapkan dengan sebaik mungkin, paes ternyata menyimpan banyak makna dan keistimewaan bagi mempelai wanita.

Paes dikenal sebagai rias pengantin khas Jawa Tengah dari area dahi hingga rambut. Setiap lekukan paes di area dahi dikenal dengan sebutan cengkorongan. Di Jawa Tengah, ada dua daerah yang sangat terkenal akan paesnya, yaitu Solo dan Yogyakarta. Biasanya, paes ini menggunakan pidih berwarna hitam legam. Namun, ada juga paes basahan khas Solo yang berwarna hijau.

Menurut para perias paes senior, awalnya paes ini dibuat dengan pidih atau sejenis lilin. Akan tetapi, saat ini para perias modern lebih memilih menggunakan cairan eyeliner. Sebab, cairan ini dianggap lebih aman di kulit, terutama bagi pemilik kulit sensitif.

Makna Dibalik Paes Rias Pengantin Khas Jawa Tengah

Seperti diketahui, paes memiliki pakem anatomi diikuti makna yang begitu mendalam. Jika ditelaah lebih lanjut, setiap nilai yang sarat filosofi tersebut sebenarnya adalah suatu gambaran dan pondasi pernikahan yang akan dilangsungkan. Berikut penjelasan selengkapnya.

Gajahan atau panunggul

Pada rias pengantin khas Jawa Tengah, ada bentuk lekukan paling lebar tepat di bagian tengah yang menyerupai huruf U. Pada paes Solo, lekukan ini disebut dengan gajahan.

Sementara pada paes ageng dikenal dengan panunggul yang mengambil bentuk gunung dan melambangkan tiga kekuatan dewa tunggal atau Trimurti. Bentuk ini mewakili suatu harapan jika kehormatan sekaligus derajat perempuan akan ditinggikan saat menikah.

Namun, hal ini agak sedikit berbeda pada paes basahan dan paes putri Solo karena memiliki bentuk lekukan yang lebih besar. Sementara pada paes ageng cenderung lebih ramping. Berbeda pula dengan paes putri Yogyakarta yang memiliki ujung lebih runcing.

Citak

Rias pengantin khas Jawa Tengah juga memiliki bentuk citak yang terlihat seperti berlian tepat di dahi dan di antara alis. Ternyata, citak ini merefleksikan mata Dewa Siwa sebagai pusat pikiran dan ide serta mewakili harapan pengantin wanita yang cerdas sekaligus berakhlak baik. Diketahui, citak ini diaplikasikan di semua jenis paes, kecuali paes putri Solo.

Pengapit

Jika kamu lihat lebih detail, tepat di samping kanan dan kiri gajahan terdapat pula dua lekukan berbentuk runcing yang disebut pengapit. Bentuk tersebut diibaratkan sebagai pengendali gajahan. Adapun maknanya adalah meski di dalam rumah tangga ada banyak rintangan, setiap pasangan pengantin diharapkan selalu berjalan lurus sesuai tujuannya yang mulia.

Penitis

Tak ketinggalan pula penitis yang ada di sebelah pengapit dalam rias pengantin khas Jawa Tengah. Penitis berbentuk lekukan yang tidak terlalu runcing dan tidak sebesar gajahan.

Baca Juga: Ragam Pilihan Jenis Seserahan dan Maknanya Menurut Adat Pengantin Jawa

Bentuk semacam ini ternyata melambangkan bahwa, segala sesuatu harus memiliki tujuan dan wajib dijalankan secara efektif. Termasuk urusan dalam pengelolaan keuangan rumah tangga.

Godheg

Setiap paes pengantin khas Jawa Tengah selalu memiliki lekukan kecil di dekat telinga yang disebut dengan godheg. Bentuk ini melambangkan kebijaksanaan dan jadi pengingat untuk calon pengantin agar senantiasa berintrospeksi diri. Godheg ini juga melambangkan doa yang kuat agar pengantin diberi keturunan yang baik.

Bagian Penting Rias Pengantin Jawa Tengah

Berikut ini ada beberapa detail rias pengantin khas Jawa Tengah yang ternyata tak kalah penting dengan paes, antara lain:

Alis menjangan

Rusa atau yang dalam Bahasa Jawa dikenal dengan sebutan menjangan ini ternyata mampu menginspirasi rias pengantin khas Jawa Tengah. Dibuat dalam rupa paes basahan dan paes ageng, alis menjangan benar-benar berhasil membuat tampilan mempelai wanita semakin memesona.

Bagaimana tidak, alis pengantin dirias menyerupai bentuk tanduk hewan satu ini yang melambangkan harapan supaya kedua pengantin berlaku cerdas dan anggun, seperti karakter rusa dalam setiap persoalan rumah tangga.

Sanggul bokor mengkurep

Setiap pengantin wanita yang mengusung gaya Yogyakarta selalu dipasangi sanggul bokor mengkurep dilengkapi irisan daun pandan dan bunga melati. Tak heran jika tatanan rambut ini memancarkan aroma semerbak.

Tentu saja, hal semacam ini pun melambangkan harapan, yaitu agar sang pengantin menjadi pribadi yang berguna dan mengharumkan nama negerinya.

Sanggul bangun tulak

Pada paes putri Solo dan paes basahan, sanggul bangun tulak ini dianggap sebagai penolak bala agar rumah tangga jauh dari bahaya maupun kesialan. Biasanya, sanggul ini juga dilengkapi dengan hiasan burung merak dan ditambahkan sasakan sunggar. Penambahan detail ini dilakukandi area dekat telinga agar pengantin selalu jadi pendengar yang baik.

Untaian gajah ngoling

Selain menggunakan sanggul bokor mengkurep, rias pengantin khas Jawa Tengah sengaja membiarkan bagian rambut menjuntai ke kanan sepanjang 40 cm. Hal ini biasanya diterapkan pada paes ageng.

Selain itu juga, bagian tersebut akan diberi tambahan pandan yang hanya dibungkus melati tanpa rambut. Untaian ini disebut dengan gajah ngoling yang berarti kesucian dalam menjalani kehidupan rumah tangga penuh kesakralan.

Untaian tibo dodo

Detail selanjutnya yang bisa ditemukan pada rias pengantin khas Jawa Tengah adalah untaian tibo dodo yang umumnya terdapat pada paes Solo. Seperti halnya gajah ngoling, untaian ini dibuat dari roncean bunga melati yang dibiarkan menjuntai dari ujung kepala hingga pinggang.

Sementara pada paes basahan, roncean ini menjuntai hingga paha. Tak ketinggalan pula, di bagian ujung untaian terpasang kuncup bunga cempaka.

Demikian tadi beberapa detail makna paes yang sering ditemukan pada rias pengantin khas Jawa Tengah. Bagaimana, cukup istimewa bukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top