Syarat Poligami Menurut Ulama Berbeda-Beda, Ada yang Haram

Syarat-poligami.jpg

bagaimanakah syarat poligami menurut ulama? Islam memang secara tegas memperbolehkan (mubah) poligami. Boleh berarti tidak menganjurkan, tidak pula melarang. Tidak memberikan pahala, juga tidak mengganjar dosa para pelakunya. Para ulama juga sepakat bahwa poligami dibolehkan. Hanya saja, kata boleh dalam poligami diikuti dengan sejumlah persyaratan tertentu.

Para ulama berbeda  pendapat soal ketentuan poligami, sekalipun mereka menggunakan dasar yang sama. Sama-sama berpijak pada satu ayat dalam al-Quran, yaitu QS. al-Nisa‟ (4): 3. Lantas sebenarnya bagaimana syarat poligami menurut ulama’? berikut ulasan lengkapnya.

Syarat poligami menurut ulama

Syarat Poligami Menurut Ulama

Syarat poligami menurut ulama’ berbeda-beda. Ada yang memberikan syarat longgar dan ada yang memberikan syarat ketat. Berikut pendapat para ulama’ terkait dengan syarat poligami:

1. Menurut Kebanyakan Ulama

Kebanyakan ulama’ menerjemahkan QS. al-Nisa‟ (4): 3 sesuai dengan masanya. Ayat tersebut turun pada saat setelah terjadi Perang Uhud. Saat itu banyak pejuang muslim yang gugur dalam medan pertempuran. Akibatnya banyak anak yatim dan janda yang ditinggalkan. Demi menjadi masa depan mereka, maka disyariatkanlah poligami dalam Islam.

2. Menurut Al-Syaukani

Menurut Al-Syaukani sebab turunnya ayat al-Nisa‟: 3 itu berhubungan dengan kebiasaan orang-orang Arab pra-Islam. Salah satu kebiasaan mereka adalah kebiasaan para wali yang hendak menikahi anak yatim tetapi tidak memberikan mahar yang jumlahnya setara dengan yang mereka berikan kepada perempuan lain.

Karena keadaan inilah kemudian turun ayat tersebut. Dimana dalam ayat tersebut, bila tidak bisa memberikan mahar yang sama antara perempuan tidak yatim dengan yang yatim, maka Allah menyuruh menikahi yang tidak yatim saja maksimal empat perempuan dengan syarat mampu berbuat adil. Tetapi jika tidak mampu berbuat adil, maka cukup nikahi satu saja.

Al-Syaukani setuju dengan pendapat maksimal wanita yang boleh dinikahi adalah empat. Bahkan ia mengharamkan menikahi wanita lebih dari empat orang sebab itu bertentangan dengan sunnah Nabi dan pemahaman bahasa Arab yang umum (al-Syaukani, 1973: 420).

Terkait dengan adil sebagaimana yang di nash dalam QS. al-Nisa‟: 129, ia sepakat dengan umumnya para ahli. Baginya bagaimanapun seseorang berusaha untuk berbuat adil, ia tidak akan mampu. Terlebih kalau berhubungan dengan hal-hal yang bersifat non materiil.

Tetapi Allah melarang berbuat condong ke salah satunya sehingga mengakibatkan yang lain menjadi terlantar. Dengan kata lain, Al-Syaukani mensyaratkan harus ada upaya maksimal seorang suami untuk berbuat adil kepada para isterinya (al-Syaukani, 1973: 521).

3. Menurut Al-Maraghi

Al-Maraghi adalah salah satu ulama’ yang berpendapat dalam kitab tafsirnya bahwa kebolehan berpoligami adalah kebolehan yang dipersulit dan diperketat. Baginya, poligami hanya boleh dilakukan dalam keadaan darurat dan hanya dapat dilakukan oleh mereka yang benar-benar membutuhkan.

Dia menjelaskan poligami sebagai “dar’u al-mafasid muqaddamun, ala jalbi al-mashalih” yang artinya secara tegas ia ‘menolak yang berbahaya harus didahulukan ketimbang dmengambil yang bermanfaat’. Dari sini dapat diambil makna bahwa betapa pentingnya berhati-hati sebelum melakukan poligami.

Bagi Al-Maraghi, alasan yang membolehkan poligami adalah

  • karena isteri mandul sedang salah satunya atau keduanya sangat mengharap keturunan.
  • Suami memiliki kemampuan seks sedang istri tidak mampu melayani kebutuhanya
  • Suami memiliki harta yang banyak yang mampu membiayai segala kepntingan istri dan anak-anaknya.
  • Jumlah wanita melebihi jumlah laki-laki akibat perang. (al-Maraghi, 1969, IV: 181-182).

4. Menurut Sayyid Qutub

Beliau memandang bahwa poligami adalah perbuatan rukhshat. Karena itu poligami hanya boleh dilakukan dalam keadaan darurat benar benar mendesak. Kebolehan yang diungkapkan oleh Sayyid Qutub juga harus dibarengi dengan sikap adil. Terutama adil dalam nafkah, pergaulan, muamalah,serta giliran tidur malam. Bagi yang tidak mampu berbuat adil, maka cukup seorang isteri saja (Sayyid Qutub, 1966, IV: 236).

Pendapat yang sama juga diungkapkan oleh Ameer Ali seperti Sayyid Qutub (Ali, 1922: 229).

5. Muhammad Abduh

Muhammad Abduh bahkan memberikan pendapat bahwa poligami tidak diperbolehkan (haram). Sebab menurutnya, poligami hanya bisa dilakukan bila seorang suami dalam keadaan tertentu, keadaan tertentu itu misalnya ketidakmampuan seorang isteri untuk mengandung atau melahirkan.

Mengutip QS. al-Nisa‟(4): 3, Abduh mengakui bahwa Islam membolehkan poligami tetapi dituntut adanya keharusan adil dalam bersikap kepada istri, sehingga ia pada kesimpulan pada prinsipnya islam itu monogami (Nasution, 1996: 103).

Pendapat yang serupa juga diungkapkan oleh Muhammad Rasyid Ridha yang sependapat

dengan gurunya, Muhammad Abduh. Jika tidak tidak mampu berbuat adil kepada isteri-isterinya, maka poligami haram dilakukan (Nasution, 1996: 104).

Litalia

Litalia

Penulis lepas yang suka dengan topik pernikahan, travelling, hukum dan desain interior. Kontak saya di litaliaku@gmail.com

One Reply to “Syarat Poligami Menurut Ulama Berbeda-Beda, Ada yang Haram”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top