Tak Disangka, Inilah 5 Mitos Pernikahan Adat Jawa (Part 1)

Pernikahan merupakan momen sakral dimana setiap pasangan mengharap kesuksesan dan juga kebahagian dalam perjalanan kehidupan barunya. Tetapi nyatanya, ada banyak sekali mitos pernikahan adat Jawa, baik itu Jawa Barat, Jawa Tengah dan juga Jawa Timur.

Mitos-mitos tersebut tidak begitu saja bisa dihilangkan. Sebagian masyarakat bahkan masih mempercayainya. Setiap kali akan melangsungkan pernihakan, rasanya ada yang tidak enak bila bertentangan dengan mitos tersebut. Sehingga mencari sejumlah cara untuk menghindari mitos-mitos tersebut. Lantas apa saja mitosnya?

mitos pernikahan adat jawa

Mitos Pernikahan Adat Jawa

1. Dilarang menikah di bulan syura

Kepercayaan yang sering dianjurkan oleh orang tua kepada anaknya yang akan menikah adalah jangan menikah di bulan syura. Alasannya karena di bulan syura merupakan bulan khusus bagi Ratu Pantai Selatan yang akan menggelar acara hajatan laut.

Mitos ini yang sudah berkembang dan memang sulit untuk di analisa oleh kebanyakan pasangan era sekarang. Namun, itulah tradisi, bahkan masih banyak orang tua yang memegang mitos tersebut sebagai anjuran sebelum menikahkan anaknya.

2. Acara ruwatan bagi anak tunggal

Untuk menghindari dari bala dan kesialan, maka mitos orang tua Jawa melakukan ruwatan kepada anak tunggalnya. Hal ini dianggap agar anaknya kelak terhindar dari musibah, kesialan dan dapat menjalankan hidup dengan selamat, bahagia dan limpahan rejeki. Sehingga pada saat pernikahan kelak acara berjalan dengan lancar tanpa halangan apapun.

3. Rumah dilarang menghadap arah timur

Setelah pasangan menikah dan membangun rumah sendiri, maka mitos selanjutnya adalah dilarang membangun rumah menghadap arah timur. Hal ini bertujuan supaya para hantu tidak berdiam diri di dalam rumah tersebut, mitos ini yang sering diberikan kepada pasangan baru menikah. Dan juga agar rezeki serta kehidupannya tidak sulit.

4. Menghindari rumah yang berada di arah tusuk sate

Hal ini juga menjadi mitos Jawa, jika memiliki rumah yang berada di posisi tusuk sate atau rumah menghadap ke jalan lurus atau berpapasan oleh ujung jalan. Maka hal ini bisa menimbulkan kesialan bagi penghuninya, karena itu disarankan oleh orang tua untuk menghindari posisi tersebut.

5. Perhitungan weton Jodoh

Sebelum memutuskan menikah, umumnya tradisi di Jawa melakukan hitungan weton jodoh atau kecocokan pasangan. Tujuan perhitungan ini agar pasangan diyakini mampu sejalan, cocok, serta mampu memberikan keberkahan kelak dalam kehidupan rumah tangganya. Walau kebanyakan dalam perhitungan weton ada pula yang salah atau tidak cocok, hal tersebut yang biasanya menyebabkan pernikahan menjadi gagal.

Selain beberapa mitos pernikahan adat jawa di atas, masih ada sejumlah mitos lainya yang akan saya bahas dalam part 2: Tak Disangka, Inilah 5 Mitos Perkawinan Adat Jawa (Part 2)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *