Waktu Yang Kurang Baik Untuk Menikah Dalam Jawa Dan Islam

waktu-untuk-tidak-menikah.jpg

Pernikahan merupakan acara yang sangat sakral, yang dilakukan berdasarkan adat atau budaya masing-masing dari sepasang mempelai. Salah satunya adat nikah orang jawa, yang dilakukan sesuai dengan tatanan yang ada. Termasuk juga kapan waktu untuk tidak menikah.

Orang jawa sendiri memang dikenal sebagai orang yang selalu mengikuti jejak leluhurnya dalam mengerjakan segala sesuatu termasuk pernikahan juga. Misalnya saja adanya hari-hari tertentu yang dianggap baik atau bahkan sebaliknya buruk dalam menentukan hari di saat ada hajat terlebih dalam hal pernikahan.

waktu untuk tidak menikah

Kesamaan Jawa dan Islam

Ternyata tidak hanya adat jawa saja yang menggunakan prinsip penentuan hari pernikahan atau peringatan tertentu. Namun di dalam agama islam pun juga telah dianjurkan untuk mengikut beragam tatanan yang telah ada demi terciptanya sebuah kebaikan dan kelancaran berlangsungnya acara. Maka dengan adanya kelancaran acara tersebut diharapkan ke depannya tetap lancar saja sehingga nantinya dapat tercapai kehidupan yang lebih baik.

Lalu mengapa Jawa dan Islam, yah karena Jawa dan Islam memiliki banyak sekali kesamaan pandangan dalam hal tersebut, terutama dalam pemikiran dan juga hakikatnya. Sehingga anda juga tidak akan jauh berbeda dalam hal melakukan perhitungan kapan saja waktu yang baik atau sebaliknya. Tentu tujuan dari adanya penentuan hari ini adalah demi mengharapkan adanya kebaikan dari jalan yang diambil tersebut.

Menurut kitab Betaljemur Adammkana karya R.Soemodidjojo juga telah disebutkan bagaimana dan kapan saja yang baik dalam menentukan hari dalam pernikahan. Tentunya hal tersebut tidak ada bedanya dengan agama islam. Di dalam kitab Qurratul ‘Uyun karya Asy-Syekh Al-Imam Abu Muhammad juga telah dipaparkan bahwa terdapat beberapa hari dan bulan di mana baik dan juga sebaliknya kurang baik dalam menentukan hari pernikahan.

Sedangkan di dalam pemikiran orang jawa sendiri berasal dari ilmu titen, tapi di dalam islam ada yang memang mengatakan hal tersebut telah disebutkan dalam hadits, sehingga umat islam bisa menaati hal tersebut. Memang hal tersebut dikarenakan mereka akan yakin bahwa apa yang telah diucapkan oleh baginda Rasulullah adalah benar adanya.

Selain itu juga dalam ngilmu titen, dahulu para nenek moyang orang jawa menggunakan berbagai cara untuk mengenali beragam kejadian-kejadian buruk yang sangat berhubungan dengan hari, tangga, bulan serta tahun.

Waktu Untuk Tidak Menikah

Adapun hari yang dianggap kurang baik tersebut adalah

  1. Hari Naas Keluarga, misalnya adalah hari dan pasaran meninggalnya orang tua dari calon pengantin. Jika memang orang tuan asih hidup semua maka anda menghindari wafatnya kakek nenek dari orang tuan calon pengantin tersebut. Hari pasaran meninggalnya saudara kandung calon pengantin tersebut jika memang ada.
  2. Hari yang dikatakan tidak baik di dalam bulan. Contohnya adalah pada bulan jumadilakir, rejeb serta ruwah hari rabu, kamis dan juga jum’at. Bulan puasa, syawal, dan dulkaidah hari jum’at, sabtu dan juga hari minggu. Bulan besar, sura dan sapar, hari senin, selasa, sabtu dan minggu. Bulan mulud, bakda mulut dan jumadil awal pada hari senin, selasa, rabu dan kamis.
  3. Tanggal-tangal yang tidak baik dalam bulan bulan sura yang jatuh pada tanggal 6, 11 dan 18,
  4. Bulan sapar yaitu tanggal 1, 10 dan 20, bulan mulud tanggal 1, 8, 10, 15 dan 20.
  5. Bulan bakdamulud pada tanggal 10, 12, 20, dan 28. Bulan jumadilawal tanggal 1, 10, 11 dan 28, bulan jumadilakhir yang jatuh pada tanggal 10, 14 dan 18.
  6. Bulan rejeb pada tanggal 2, 13, 14, 18 dan 27. Bulan ruwah yang telah jatuh pada tanggal 4, 12, 13, 26, dan 28.
  7. Pada bulan pasa pertanggal 7, 9, 20 dan 24, bulan syawal terjadi pada tanggal 2, 10 dan 20. Bulan dulkaidah yaitu di tanggal 2, 9, 13, 22 dan 28, lalu pada bulan besar tanggal 6, 10, 12 serta 20.

Tentunya dalam menghadapi sebuah pernikahan yang setiap orang inginkan adalah keberlangsungan acara yang sesuai dengan diharapkan. Lancar dan diridhoi baik itu oleh Allah ataupun kedua orang tua masing-masing mempelai. Ada baiknya mengikut petunjuk yang ada selama itu tidak melanggar dan baik bagi kita sendiri, termasuk soal kapan waktu untuk tidak menikah.

Litalia

Litalia

Penulis lepas yang suka dengan topik pernikahan, travelling, hukum dan desain interior. Kontak saya di litaliaku@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

scroll to top